Feeds:
Pos
Komentar

ADA pernyataan menarik dari Dirjen Mandikdasmen Suyanto (Kompas, 21/1, hlm 14). Ia menyatakan, ujian nasional (UN) dapat memacu semangat siswa dan guru untuk meningkatkan prestasi. Sepintas, pernyataan guru besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu bisa diterima akal sehat, namun persoalannya justru muncul di sini, semangat macam apa yang dimiliki para siswa dan guru kita dalam menghadapi UN?

Harus diakui, setiap kebijakan pendidikan membawa dampak yang beragam dan cenderung bersifat dualisme. Dalam konteks UN, misalnya, adanya penambahan mata pelajaran dari tiga menjadi enam di tingkat sekolah menengah atas, diharapkan menjadi faktor pendorong bagi siswa untuk lebih rajin belajar di rumah. Lagi pula, pihak sekolah juga amat responsif dengan memberikan materi pelajaran tambahan seusai jam pelajaran. Itulah sisi positif UN.Namun, di sisi lain, menurut hasil jajak pendapat Litbang Seputar Indonesia (18/11/2007, hlm 10), penambahan mata pelajaran justru menambah beban bagi para siswa, terutama beban psikologis. Betapa tidak, waktu istirahat yang dimiliki siswa menjadi berkurang, lantaran mereka harus ikut pendalaman materi lewat kursus/les. Belum lagi mereka juga harus memikirkan dana tambahan untuk kebutuhan tersebut.

Akibatnya, secara psikologis, kendala-kendala tersebut malah mengakibatkan siswa jadi terbebani. Alih-alih bisa konsentrasi menghadapi ujian, justru siswa jadi stres karena pikiran-pikiran tersebut. Terlebih, pada UN tahun lalu banyak siswa yang dinyatakan tidak lulus. Padahal, ketika itu mata pelajaran yang diujikan hanya tiga. Jika tahun 2008 ditambah menjadi enam, jumlah siswa yang tidak lulus diprediksi akan bertambah.

Kondisi demikian, dikhawatirkan akan membuka peluang terjadinya beragam kecurangan, seperti pembocoran soal ujian atau pengatrolan nilai. Rata-rata kecurangan tersebut cenderung didorong oleh motif mengejar standar kelulusan bagi siswa. Sebab, nilai standar kelulusan UN selalu naik tiap tahunnya, dan hal itu membuat siswa kebingungan. Di tengah tekanan psikologis dan keinginan lulus, akhirnya banyak siswa berbuat curang.Dari faktor guru, mereka jadi giat mengajar dan belajar dalam menghadapi UN karena dimotivasi keinginan untuk memenuhi pesan pemerintah daerah (pemda) agar persentase kelulusan siswa tinggi. Lebih dari itu, sekolah juga cenderung memprioritaskan mata pelajaran yang termasuk dalam UN. Apakah semangat macam ini yang dimaksud Bapak Dirjen itu? Entahlah. Yang pasti, pelaksanaan UN justru memunculkan dualisme pembelajaran.Betapa tidak, proses pembelajaran di kelas menunjukkan hal itu. Para siswa dilatih serta dikondisikan siap untuk menyiasati soal. Mereka di-drilling bisa menjawab ratusan soal. Bahkan, ada pihak sekolah yang sudah menerapkan proses itu sejak awal masuk ke kelas III. Bukan itu saja, guru-guru, terutama kelas I dan II diarahkan untuk terfokus mempersiapkan UN di kelas III. Kondisi silang-sengkarut ini masih terus berlangsung hingga kini.Tentu, kita dapat menerka akibat dari pelaksanaan UN, yakni proses pembelajaran di kelas menjadi kaku dan lebih berorientasi tunggal (baca: lulus UN). Terlebih, bentuk soal dalam UN berupa pilihan ganda (multiple choice) yang membutuhkan satu jawaban dan bersifat pasti. Akibatnya, guru di kelas menjadi bersikap paternalistik, artinya siswa hanya diminta mendengarkan dan mematuhi apa jawaban/perkataan yang diucapkan oleh guru.Ini berbeda dengan bentuk soal esai yang, sayangnya, cenderung tidak disukai sebagian besar siswa. Padahal, jika kita melihat esensinya lebih jauh, penggunaan soal esai cenderung bisa membuat pikiran siswa lebih kreatif. Mereka lebih dikondisikan untuk bebas mengembangkan pikirannya sendiri, serta jauh dari pengekangan melalui pen-drilling-an yang bersifat rutin dan amat membosankan guru dan siswa.Dalam konteks itu, saya sepakat dengan Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Suparman, UN mengakibatkan proses belajar di dalam kelas bertambah kering (Kompas, 5/11/2007). Mengapa? Karena, baik sekolah, guru, maupun siswa lebih mengedepankan hasil akhir (melalui UN) sebagai hal terpenting daripada proses belajar. Jika situasi ini yang berkembang, ada kekhawatiran proses pembelajaran akan timpang.Lebih dari itu, guru yang dianggap sebagai insan pendidik yang memiliki tugas membangun karakter siswa menjadi luntur. Dalam sejumlah kasus kecurangan menjelang UN, tak sedikit guru yang berbuat nista: mencuri soal ujian, memberikan bocoran soal, hingga menyebarkan kunci jawaban. Jika guru, sosok yang seharusnya digugu dan ditiru berbuat curang begitu, bagaimana pula moral para siswanya?Oleh karenanya, alasan utama penyelenggaraan UN, yakni agar siswa terpacu dan belajar keras jelas tidak terbukti. Pada kenyataannya, justru kebijakan UN membuat pembelajaran bersifat dualisme. Dari situ, terbaca jelas bahwa semua pihak memiliki beban untuk mempertahankan reputasi masing-masing melalui UN. Atas kondisi itu, wajar jika banyak orang lebih memilih jalan pintas yang jauh dari nilai-nilai pendidikan. Ayo semangat ber-UN![]

Materi 1 : Gali Ide (Fiksi dan Nonfiksi)
Peserta diajak mau dan mampu untuk menggali ide-ide menarik, inovatif, serta bisa dikembangkan menjadi sebuah tulisan (fiksi/non-fiksi).

Materi 2 : Teknik Penulisan Opini/Artikel di Surat Kabar
Peserta diajak mau dan mampu menulis artikel/opini di surat kabar/media massa.

Materi 3
: Kiat Memenangi Lomba Penulisan Nonfiksi
Peserta diajak mau dan mampu menulis karya tulis khususnya untuk kepentingan lomba penulisan tingkat lokal/regional/nasional.

Materi 4
: Kiat Menerbitkan Buku-buku Nonfiksi
Peserta diajak mau dan mampu menulis sekaligus menerbitkan buku-buku nonfiksi (antologi esai, buku kajian, dsb).

Sekadar Catatan:

  1. Keempat materi di atas baru bersifat tawaran dan masih bisa didiskusikan.
  2. Materi tersebut lebih mengarah ke praksis/bertindak dan sedikit teoretis sehingga peserta akan lebih cepat memahami esensi materi yang dibawakan oleh tentor/pemateri.
  3. Pemateri yang dihadirkan (kalau bisa) ialah yang memiliki banyak pengalaman. Misalnya, untuk Materi 3 disampaikan oleh Yusuf Maulana yang punya pengalaman lomba penulisan di tingkat nasional dan lokal.
  4. Sesekali CWC FLP Yk perlu juga memiliki materi-materi yang baru dan sifatnya bisa dijual, selain yang selama ini kita ketahui. Untuk lebih detailnya, kita bisa didiskusikan bareng beberapa teman FLP yang syukur-syukur bisa kasih masukan/saran lain.
  5. Selamat bekerja! Cah yo!

(Renungan Hari Buku Nasional 17 Mei)

SETIAP tanggal 17 Mei kita peringati sebagai Hari Buku Nasional. Momentum tersebut tetap kita anggap penting, kendati pun banyak pihak yang tak mengetahuinya. Jelas, kepopuleran momentum Hari Buku Nasional kalah dengan momentum lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) atau Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei). Namun, momentum Hari Buku Nasional, bagaimana pun tetap perlu kita apresiasi.

Bicara soal buku, saya teringat kata-kata bijak cendekiawan Ali Syariati: “Buku adalah seperti makanan, tetapi makanan untuk jiwa dan pikiran. Buku adalah obat untuk luka, penyakit, dan kelemahan-kelemahan perasaan dan pikiran manusia. Jika buku mengandung racun, jika buku dipalsukan, akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar.” Demikian singkat dan lugasnya kata-kata itu mengemukakan tentang peran penting sebuah buku. Lanjut Baca »

DALAM banyak kasus, saat ini para guru mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan kurikulum baru, yakni kurikulum di tingkat satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum yang merupakan produk dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) itu disusun berdasarkan dua standar. Yakni, standar isi dan standar kompetensi lulusan, yang keduanya telah disusun dan diujipublikkan pada tahun 2006 lalu.

Namun, persoalannya, apakah KTSP bisa membawa iklim perbaikan mutu dalam dunia pendidikan? Atau, KTSP akan mengalami nasib serupa seperti apa yang dialami kurikulum-kurikulum sebelumnya (KBK, CBSA, dst) yang baik di tataran konsep namun kedodoran di tataran praksis? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi PR untuk direalisasikan oleh para pelaksana kurikulum, yang tak lain tak bukan, ialah guru di kelas. Lanjut Baca »

DALAM sebuah kelas terjadilah interaksi antara guru bahasa Inggris dan para siswa. Guru tersebut melontarkan pertanyaan sederhana, “How are you?” Dengan serempak, para siswa menjawab, “I’am fine.” Ketika menyimak jawaban itu, guru itu merenung dan bertanya. Mengapa hanya satu jawabannya, padahal siswanya berjumlah 30 orang. Padahal ia mengharap agar siswa-siswanya memiliki jawaban yang variatif. Misalnya, “I’am good.”, “I’am be happy”, dan sebagainya.

Selang beberapa hari, guru itu kembali melontarkan pertanyaan kepada para siswanya, “How is life?” Kontan, siswa-siswanya bingung dan tak tahu akan menjawab apa. Melihat kondisi itulah, akhirnya guru tersebut berpikir. Mengapa para siswanya tidak bisa menjawab pertanyaan “How is life?”, padahal esensinya tidak jauh beda dengan pertanyaan sebelumnya. Guru itu pun akhirnya merenung kembali, “Jika seperti ini terus, kelak pelajaran bahasa Inggris akan membosankan dan tidak kreatif. Apa yang bisa saya lakukan saat ini?” Lanjut Baca »

SETIAP tanggal 17 Mei kita peringati sebagai Hari Buku Nasional. Memang, pamor momentum tersebut kalah jika dibandingkan dengan momentum lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) atau Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei). Itu disebabkan banyak faktor, salah satunya ialah karena buku dan aktivitas yang terkait dengannya, seperti membaca dan menulis, tidak begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Benarkah?

Semasa penulis duduk di bangku sekolah, ada satu ungkapan menarik yang sering diungkapkan oleh guru-guru. Yaitu, ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku.” Sepintas ungkapan itu sederhana, namun di dalamnya terkandung makna penting. Bahwa membaca (iqra) ternyata merupakan perintah Allah Swt kepada seluruh umat manusia, sebagaimana tertuang dalam QS Al-Alaq [96] ayat 1-5. Lanjut Baca »

AWALI setiap pagimu dengan menulis, itu akan membuatmu jadi seorang penulis. Begitulah ungkapan dari Gerald Brenan. Ya, bukan tanpa alasan saya mengutip ungkapan Brenan tersebut. Kata-kata “awali setiap pagimu dengan menulis”, merupakan ungkapan yang penting dan patut dicamkan oleh siapa pun, termasuk saya. Tentu, ada pertanyaan yang muncul: mengapa harus setiap pagi kita menulis? Dan mengapa harus pagi hari waktunya?

Kata-kata “setiap pagi” bisa dimaknai sebagai penanda waktu yang memiliki unsur kontinuitas. Jika dikaitkan dengan proses, maka kita maknai bahwa menulis juga membutuhkan unsur kontinuitas. Mudahnya, saya katakan: menulis merupakan proses yang diulang-ulang. Semakin diulang semakin baik kualitasnya. Sebaliknya, jika tidak diulang semakin buruk kualitasnya, atau bahkan proses penulisan terhenti (Jawa: mandeg ‘terhenti’).

Nah, guna menyiasati agar proses menulis tidak mandeg ada beberapa hal yang patut kita jadikan bahan pertimbangan. Pertama, niat Anda. Bicara soal niat, kita perlu kutipkan ungkapan dari Imam al-Ghazali: “Tiada yang lebih baik daripada ilmu dan ibadah. Jangan kita mempergunakan otak kita melainkan untuk ilmu dan ibadah.” Jelasnya, otak sebagai organ vital dalam tubuh bisa kita berdayakan untuk hal-hal yang positif, salah satunya ialah menulis.

Setiap penulis tentu memiliki niat yang berbeda-beda. Ada yang ingin menulis untuk popularitas dan uang. Ada pula yang ingin mengejar nilai kumulatif guna kenaikan pangkat. Namun, idealnya, niat menulis ialah sebagai sarana penyampaian ilmu dan kebenaran. Itu merupakan niat utama dari menulis, sementara soal popularitas dan uang cukup dianggap sebagai “bonus” proses menulis yang kita jalani secara tekun. Lanjut Baca »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.