(Renungan Hari Buku Nasional 17 Mei)
SETIAP tanggal 17 Mei kita peringati sebagai Hari Buku Nasional. Momentum tersebut tetap kita anggap penting, kendati pun banyak pihak yang tak mengetahuinya. Jelas, kepopuleran momentum Hari Buku Nasional kalah dengan momentum lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) atau Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei). Namun, momentum Hari Buku Nasional, bagaimana pun tetap perlu kita apresiasi.
Bicara soal buku, saya teringat kata-kata bijak cendekiawan Ali Syariati: “Buku adalah seperti makanan, tetapi makanan untuk jiwa dan pikiran. Buku adalah obat untuk luka, penyakit, dan kelemahan-kelemahan perasaan dan pikiran manusia. Jika buku mengandung racun, jika buku dipalsukan, akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar.” Demikian singkat dan lugasnya kata-kata itu mengemukakan tentang peran penting sebuah buku.
Sekurangnya kita bertanya apakah buku juga berperan penting bagi kita selaku masyarakat (di) Indonesia. Pertanyaan ini bisa terjawab setelah kita pelajari sebuah survei dari International Educational Achievement (IEA). Hasil survei itu menunjukkan, kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada di urutan ke-38 dari 39 negara yang diteliti. Jika dibandingkan dengan Malaysia, dan bahkan Jepang, minat baca kita masih rendah ketimbang mereka.
Menurut sastrawan Ajip Rosidi, masyarakat Jepang sejak usia dini (kira-kira umur dua hingga tiga tahun) telah diperkenalkan dengan bahan bacaan buku (http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/ajip-rosidi/index.shtml, diakses 5 Mei 2007). Tak heran jika bangsa Jepang dijuluki sebagai bangsa yang gemar baca buku. Bahkan ada anekdot, “kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.”
Artinya, bagi orang Jepang, sesantai apa pun kegiatan yang mereka tengah tekuni, membaca tetap menjadi suatu kebutuhan layaknya kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Namun, sebaliknya, bagi orang Indonesia, sesantai apa pun kegiatan yang mereka tekuni, membaca belum dijadikan suatu kebutuhan. Pendek kata, rendahnya minat baca buku masyarakat perlu dianggap sebagai persoalan serius dan segera dicarikan solusinya.
Beberapa waktu silam, Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) mengungkapkan produksi buku di Indonesia termasuk sangat kecil ketimbang negara-negara lain di wilayah Asia Tenggara. Itu disebabkan, antara lain, karena minat baca buku kita rendah. Akibatnya, penerbit buku berjumlah sedikit, dan dari yang sedikit itu ada pula yang gulung tikar. Untuk itu, tantangan yang kelak dihadapi dunia penerbitan ialah bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat kita.
Harus diakui, masyarakat kita lebih menyenangi budaya lisan (ngobrol, gosip) dan visual (menonton TV) ketimbang membaca. Padahal, dalam konteks pendidikan, misalnya, aktivitas membaca buku menjadi dasar (basic) menjalankan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Tanpa itu, kondisi kegiatan belajar-mengajar akan terasa ‘hambar’. Pasalnya, guru akan menggunakan materi ajar yang itu-itu saja, sedangkan siswa merasa membutuhkan materi-materi baru.
Kondisi demikian, kelak membuat para guru harus banyak membaca buku-buku berbobot. Apa pasal? Sebab, para siswanya amat membutuhkan “gizi” bagi pikirannya. Terlebih lagi, jika siswa tersebut masih duduk di jenjang pendidikan dasar (SD). Kelak, jika para siswa SD itu membaca buku dengan senang hati, mereka akan memperoleh apa yang disebut oleh Dr Stephen D Krashen (1993), yakni “keterampilan kebahasaan.”
Dalam bukunya Bu Slim & Pak Bil: Menggagas-Kembali Pendidikan Berbasiskan Buku (2004), Hernowo mengemukakan “keterampilan kebahasaan” itu dapat berupa keterampilan membaca yang andal, mendapatkan kosakata yang banyak, mengembangkan kemampuan untuk memahami dan menggunakan susunan kalimat yang tertata, mengembangkan gaya penulisan yang bagus, dan menjadi pengeja yang hebat.
Pendek kata, membaca justru mendatangkan manfaat yang bersifat positif dan baik. Misalnya, bagi anak-anak usia 0-2 tahun. Pada usia tersebut, menurut Fauzil Adhim (2007), perkembangan otak anak amat pesat (80% kapasitas otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama) dan amat reseptif (gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Dalam hal ini, orang tua diminta untuk berperan aktif guna menumbuhkan minat baca anak-anak sejak dini.
Jika boleh menyarankan, para orangtua yang ingin anak-anaknya menjadi generasi ulil-albâb—berpikiran cemerlang, berakhlak mulia, berperasaan penuh kasih—maka membaca perlu ditanamkan sejak dini. Apa pasal? Kegiatan itu mau tidak mau, akan menjadi rangsangan agar anak-anak Anda memiliki keterampilan berpikir, kemampuan komunikasi, dan kecakapan mental yang baik. Itulah modal utama bagi tumbuhnya kecerdasan pikiran dan hati mereka.
Pertanyaan, kapankah saat yang tepat untuk mengajari anak membaca? Fauzil Adhim (2007) mengemukakan, saat anak telah memiliki kesiapaan untuk membaca (reading readiness). Umumnya, anak memiliki kesiapan tersebut pada usia enam tahun. Namun, kita pun tak harus menunggu secara pasif datangnya kesiapaan membaca untuk mengajarkan membaca kepada anak. Artinya, kita bisa saja melakukan kegiatan pra-membaca secara mengasyikkan.
Misalnya, di lingkup keluarga, diadakan jam wajib baca buku. Dalam hal ini, orangtua harus memberi teladan kepada anak-anaknya. Maksudnya, kendati kesibukan di luar rumah menumpuk, namun orangtua harus berusaha menyisihkan waktunya untuk membaca. Dengan begitu, minat baca anak-anak akan tumbuh karena melihat orangtua mereka juga suka membaca. Nah, dari situlah anak lantas bisa diajak untuk memahami buku secara bertahap.
Selain itu, masih dalam lingkup keluarga, adakan acara rekreasi ke toko buku/perpustakaan. Di hari Ahad atau hari libur, orangtua bisa mengajak anak-anaknya ke toko buku. Sampaikan kepada anak-anak betapa mengasyikkannya mencari buku yang berharga. Dengan begitu, anak kelak mengerti betapa rekreasi ke toko buku merupakan kegiatan yang menarik dan perlu, di samping mengajak mereka agar mencintai bacaan sejak dini.
Dalam hal ini, peran orangtua bisa dibilang penting, terutama dalam hal-hal memilihkan bacaan yang bermanfaat bagi anak-anaknya. Kendati pun anak-anak tetap yang memutuskan bacaan mana yang cocok dan hendak dibeli, namun pada kondisi tertentu, orangtua juga berhak menentukan. Sekurangnya orangtua bisa memberikan alternatif bacaan yang pas, atau bahkan mengajak anak-anak bersama-sama mencari alternatif bacaan di toko buku/perpustakaan.
Kiranya, kita bisa berharap dari kegiatan pra-membaca yang dipaparkan di atas anak-anak akan makin terkondisikan untuk giat membaca. Dengan demikian, kegelisahan kita akan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia akan teratasi. Nah, dari situlah optimisme menjadi bangsa yang gemar membaca buku seperti halnya Jepang, bisa kita wujudkan. “Sulit membangun peradaban,” kata TS Eliot (1888-1965), penyair Inggris, “tanpa budaya tulis dan baca.”[]

jd inget…
dulu waktu kerja di prshn jepun, org jepun itu selalu bawa catatan kecil..
org jepun yg udh gemar mmbaca sejak kecil aja mmbiasakan diri mmbawa catatan kecil utk mnulis hal2 yg dianggap penting yg ditemui nya sehari2…
perlu di contoh tuh..