DALAM sebuah kelas terjadilah interaksi antara guru bahasa Inggris dan para siswa. Guru tersebut melontarkan pertanyaan sederhana, “How are you?” Dengan serempak, para siswa menjawab, “I’am fine.” Ketika menyimak jawaban itu, guru itu merenung dan bertanya. Mengapa hanya satu jawabannya, padahal siswanya berjumlah 30 orang. Padahal ia mengharap agar siswa-siswanya memiliki jawaban yang variatif. Misalnya, “I’am good.”, “I’am be happy”, dan sebagainya.
Selang beberapa hari, guru itu kembali melontarkan pertanyaan kepada para siswanya, “How is life?” Kontan, siswa-siswanya bingung dan tak tahu akan menjawab apa. Melihat kondisi itulah, akhirnya guru tersebut berpikir. Mengapa para siswanya tidak bisa menjawab pertanyaan “How is life?”, padahal esensinya tidak jauh beda dengan pertanyaan sebelumnya. Guru itu pun akhirnya merenung kembali, “Jika seperti ini terus, kelak pelajaran bahasa Inggris akan membosankan dan tidak kreatif. Apa yang bisa saya lakukan saat ini?”
Sepotong kisah di atas barangkali banyak kita jumpai, khususnya di dunia pendidikan kita. Sebagai seorang sarjana pendidikan, saya ikut merasa prihatin atas situasi dalam kisah tersebut. Sejujurnya saya katakan, situasi pembelajaran, apa pun mata pelajarannya, di sekolah saat ini cenderung membosankan dan tidak kreatif. Pertanyaannya, mengapa situasi pembelajaran cenderung membosankan dan tidak kreatif? Dengan diplomatis saya menjawab, karena siswa belum merasa dihargai sebagai subjek pendidikan. Mari kita cermati.
Dalam proses pendidikan, kegiatan belajar-mengajar memiliki peran yang amat penting. Jika kegiatan itu berjalan dengan baik dan terencana, hasilnya pun akan baik. Sebaliknya, jika kegiatan itu berjalan tidak baik dan tidak terencana, hasilnya pun juga tidak baik. Kesemuanya bergantung dari guru dan para siswa di kelas. Apa pasal? Sebab, keduanya merupakan bagian yang terintegrasi dari upaya membangun proses belajar-mengajar yang interaktif. Di samping itu, keduanya pun menjadi faktor penentu berhasil-tidaknya proses pembelajaran.
Sekurangnya ada enam hal yang perlu diketahui guna mewujudkan suatu inovasi dalam proses belajar-mengajar. Di antaranya, (1) hakikat pembelajaran; (2) teknik dan metode pembelajaran; (3) prinsip pembelajaran; (4) cara-cara atau metode penerapan manajemen kelas secara efektif; (5) teori-teori belajar; dan (6) profesionalisme dalam pembelajaran (Suyanto, 2004: 1-2). Dengan mengetahui kesemuanya, diharapkan proses belajar-mengajar yang selama ini membuat siswa-siswa cenderung menjadi tidak kreatif dan bosan, kelak bisa teratasi.
Hakikat Pembelajaran. Dalam sistem pengajaran yang umum di sekolah akan berlangsung proses pembelajaran. Meskipun ada banyak definisi tentang belajar, namun yang utama dari proses belajar ialah terjadinya perubahan pada orang yang belajar. Mengutip Wolfolk dan Nicolich, “Learning always involves a change in the person who is learning.” Ditambahkan, “To qualify as learning, this change must be brought about by experience, by the interaction of a person with his or environment.” (Suyanto, 2004: 2).
Jelas, dari definisi itu bahwa pengalaman merupakan aspek penting dari belajar.
Perubahan yang terjadi pada siswa setelah mengikuti proses pembelajaran harus disebabkan oleh pengalaman (experience). Ini artinya, dalam proses belajar harus terjadi pengayaan pengalaman dalam bidang studi yang dipelajarinya dalam konteks kehidupan riil. Apalagi jika siswa nanti dituntut untuk memiliki kinerja yang prima dan oleh karena itu, ia harus mampu bertindak kreatif (creative) dan inovatif (innovative), serta mampu berkomunikasi dengan masyarakat.
Jika demikian halnya, berarti pemberian pengalaman kepada para siswa di kelas mestinya direncanakan secara sadar. Dalam hal ini, tolok ukur yang nanti digunakan ialah aspek kekinian, ketepatan, dan keefektifannya. Tanpa ada upaya yang sadar, para guru mustahil akan mampu memberi pengalaman yang berharga bagi para siswanya. Akibatnya, siswa tersebut tidak berani mengambil risiko dalam hidupnya. Seperti ditulis Rendra, “Apakah gunanya pendidikan/ bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?”
Sebelum kita ungkap metode pembelajaran, ada baiknya kita pahami dulu bagaimana proses belajar yang baik. Menurut Gagne, proses belajar yang baik diawali dari fase motivasi (Suyanto, 2004: 4-5). Mengapa demikian? Sebab, dari motivasi-lah akan muncul harapan-harapan terhadap apa yang dipelajari. Nah, jika siswa memiliki motivasi dan harapan tinggi, kelak ada kemungkinan ia akan berhasil dalam proses belajarnya. Sebaliknya, jika siswa tidak memiliki motivasi, dipastikan ia tidak akan berhasil atau tidak bisa meraih hasil optimal.
Oleh karenanya, amatlah wajar jika tugas utama para guru di kelas ialah menghidupkan motivasi belajar pada siswa. Begitu motivasi dapat dibangkitkan, kita akan lebih mudah merencanakan tahap-tahap selanjutnya. Terlebih, motivasi terkait erat dengan harapan siswa untuk bisa meraih hasil yang optimal. Untuk itu, para guru dituntut untuk melakukan inovasi pembelajaran. Misalnya, ketika ia mengajar sangat diupayakan untuk mengembangkan metode pembelajaran yang mampu mengembangkan emosi, sosial, dan kognitif para siswa.
Namun, kecenderungan yang ada saat ini tolok ukur berhasil-tidaknya seseorang belajar selalu mengacu pada faktor kognitif (IQ-intelligence quotient). Implikasinya, sekolah hanya mementingkan hard knowledge dan mengabaikan soft knowledge. Buktinya, masih digunakannya nilai berupa angka kelulusan UN, NEM, IPK, dan sejenisnya. Dari situlah, berkembang situasi pembelajaran yang lebih menekankan aspek kognitif saja, tak terkecuali pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Betul, apa yang diungkapkan Anton Moeliono (2004) bahwa guru dalam mengajar pelajaran bahasa, baik Bahasa Indonesia maupun bahasa asing, lebih mengutamakan hal formal seperti struktur dan tatanan bahasa. Ditambahkan, “Pengajaran bahasa apa pun seharusnya mengandung tiga hal pokok. Pertama, aspek kognitif. Kedua, aspek psikomotoris. Ketiga, aspek afektif.” Dalam buku Bu Slim & Pak Bil: Mengobrolkan Kegiatan Belajar-Mengajar Berbasiskan Emosi (2005), Hernowo mengungkapkan ketiganya secara lebih jelas.
Hernowo menulisnya, “Pertama, aspek kognitif misalnya dalam pelajaran bahasa adalah menangkap yang dimaksudkan oleh kalimat atau paragraf. Kedua, psikomotis, yakni menerapkan materi yang dipelajari. Secara lisan, peserta didik mampu bercerita dan secara tulisan terampil dalam mengarang serta membedakan berbagai jenis karangan.” Selanjutnya, “Ketiga, aspek afektif, yaitu kemampuan guru menimbulkan rasa tertarik dan kebanggaan pada mata pelajaran bahasa.” Itu bisa terlihat dari keterampilan anak dan aplikasinya.
Jika ingin mengacu rumusan ideal Anton Moeliono tersebut, kiranya kita sarankan agar para guru mau melibatkan unsur emosi (EQ-emotional intelligence) ketika mengajar di kelas. Dengan begitu, proses belajar-mengajar akan diminati dan kelak bisa mencapai keberhasilan. Secara tidak langsung, guru diajak untuk mengembangkan potensi otak kanan siswa yang selama ini terabaikan, karena fokus proses pembelajaran di sekolah lebih mengutamakan pengembangan potensi otak kiri saja.
Metode Pembelajaran. Di antara ragam metode pembelajaran yang kita ketahui saat ini, salah satunya ialah metode berorientasi kontekstual. Tokoh yang mempopulerkan metode tersebut, khususnya di Indonesia, ialah Dr Arief Rachman, seorang pakar pendidikan. Dalam metode pendidikan kontekstual, siswa diajarkan untuk kreatif, terutama menemukan jawaban yang berbeda dengan jawaban guru. Situasi begitu, mengingatkan saya, terutama pada kisah guru bahasa Inggris yang tertuang di bagian awal tulisan ini.
Bahwa, metode pembelajaran yang berkembang pada umumnya di sekolah ialah metode fungsional. Adapun kriteria dari metode tersebut, yaitu (1) memiliki standar obyektivitas yang kaku, (2) pendekatan yang digunakan oleh guru lebih berdasar tingkah laku, dan (3) mengacu pada pengembangan kognitif. Akibatnya, siswa akan lebih suka menghafal materi ketimbang memahami esensi dari ilmu yang disampaikan oleh guru di kelas. Konkretnya, siswa tidak mau mencari hal-hal baru karena ia lebih suka “menerima”, bukan “mencari”.
Situasi demikian, kian menyuburkan apa yang disebut Dr Arief Rachman, yakni “pembodohan peserta didik.” Mengapa? Sebab, guru (juga dosen) selalu memotong pertanyaan peserta didik yang kelewat kritis. Padahal, pertanyaan tipe itu merupakan salah satu ciri orang yang kreatif. Akan tetapi, lazimnya guru (juga dosen) karena memiliki keterbatasan ilmu, ia cenderung bersikap defensif, bahkan arogan. Sehingga manakala ada peserta didik yang mengajukan pertanyaan, guru tiba-tiba menganggap itu sebagai upaya penjatuhan wibawanya.
Ini berbeda dengan metode lainnya, metode kontekstual. Ciri khas metode tersebut, yaitu (1) memiliki unsur keterbukaan untuk menerima berbagai hasil dari proses pencarian peserta didik, (2) pendekatan yang digunakan lebih mengarah ke kompetensi individu, dan (3) mengacu pada pengembangan sosial-emosi-kognitif secara integratif. Jika metode ini diimplementasikan, kelak tercipta atmosfir yang memungkinkan kreativitas pada diri siswa. Di samping itu, hubungan antara guru dan siswa lebih akrab dan menyenangkan.
Paradigma Baru Pembelajaran. Harus kita akui, implikasi dari penerapan metode pembelajaran fungsional di sekolah selama ini ternyata tidak membuat siswa menjadi mandiri dan kreatif. Itu disebabkan banyak hal, salah satunya ialah, terlalu menekankan aspek kognitif atau intelektual (IQ). Padahal, menurut Daniel Goleman, seorang doktor psikologi jebolan Harvard University, AS, “IQ hanya menyumbang 20% dalam keberhasilan hidup seseorang, sedangkan EQ atau kecerdasan emosional menyumbang sekitar 80%.”
Oleh karenanya, amatlah penting jika kita mengembangkan faktor EQ dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Itu diambil agar para lulusan sekolah memiliki kemandirian, percaya diri, dan mampu berkomunikasi secara efektif di lingkungannya. Mengutip Patricia Patton, “IQ is an unchangeable genetic factor which we are born with. EQ is not. We can improve it with commitment, practice, knowledge, and will.” (Suyanto, 2004: 7). Pendek kata, IQ tidak bisa ditingkatkan, sedangkan EQ bisa ditingkatkan secara simultan.
Setali tiga uang dengan rencana pengembangan EQ dalam proses belajar-mengajar, kiranya kita amat perlu mengerti tentang sifat-sifat manusia. Menurut Patton ada lima sifat: (1) self-awareness ‘kesadaran diri’, (2) mood management ‘manajemen suasana hati’, (3) self-motivation ‘motivasi diri’, (4) impulse control ‘pengendalian insting’, dan (5) people skills ‘keterampilan’. Jika kelima sifat itu bisa dikembangkan, kelak pembelajaran akan menyenangkan; dan setiap siswa akan mampu menjadi orang yang mandiri dan kreatif.
Tiga Komponen Pembelajaran. Guna mengimplementasikan pembelajaran yang berdasar pengembangan EQ, kita perlu memperhatikan tiga komponennya. Di antaranya, guru, siswa, dan kurikulum. Dari segi guru, misalnya, paling tidak harus memiliki visi dan misi yang jelas terhadap masa depan para siswa. Ia harus well informed dalam bidang yang diajarkannya. Tegasnya, guru harus memiliki kemampuan untuk memprediksi mengenai apa yang kelak muncul dan apa yang tenggelam dari aplikasi bidang studi yang akan diajarkannya.
Sekurangnya guru bisa membawakan materi pelajaran bidang studinya secara menyenangkan kepada para siswa di kelas. Misalnya, melalui film, cerita, kegiatan lapangan, dan berkesenian. Dengan media tersebut, kita harapkan para siswa termotivasi untuk mau belajar dan belajar. Di level TK, misalnya, guru mau tidak mau harus pintar bercerita karena siswa TK lebih mudah memahaminya. Apalagi jika cerita yang dibawakan berisikan nilai-nilai budi pekerti dan juga soal perkembangan teknologi terkini.
Akan tetapi, penyajian pelajaran melalui cerita, khususnya di level TK ternyata tak mudah. Guru harus dituntut kreatif, dan pandai memainkan ekspresi dan dramatisasi suasana sehingga perhatian siswa terfokus. Dengan begitu, siswa akan merasa terlibat dalam pembelajaran di kelas. Pada gilirannya, interaksi guru dan siswa akan terasa menyenangkan dan memunculkan keingintahuan siswa. Di sisi lain, guru pun menjadi aktif mencari materi ajar dari berbagai sumber, seperti buku, majalah, tabloid, koran, Internet, dan sebagainya.
Sedangkan di level SD, SMP, dan SMA lebih diarahkan untuk memahami pelajaran melalui media-media belajar yang bersifat visual (gambar). Misalnya, film dokumenter. Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia, misalnya, jika guru membawa CD yang berisikan puisi-puisi dari website www.cybersastra.net, kelak siswa tak hanya memahami teori tentang puisi. Lebih dari itu, mereka akan juga paham tentang model, karakter, serta cara pengucapan dalam karya-karya penyair yang disiarkan pada umumnya di Internet.
Dengan membawa media itu, guru diharapkan bisa menghindarkan dirinya dari apa yang disebut Paulo Freire, yakni “banking concept of education.” Konsep itu lebih memosisikan guru sebagai pihak yang selalu “mendepositokan” materi kepada para siswa, padahal siswa-siswanya tidak tahu perihal kegunaan materi itu. Sejauh diamati, konsep pendidikan bergaya “bank” itu lebih cenderung membuat siswa tidak kreatif. Dalam filsafat kuno, siswa senantiasa diberikan “ikan”, tanpa pernah diberikan “kail dan alat pancing.”
Segi lainnya, segi siswa yang perlu diberdayakan dan memberdayakan diri agar proses belajar-mengajar dapat berjalan optimal. Itu terkait dengan salah satu rumus keberhasilan EQ. Yaitu, bahwa langkah pertama mengembangkan potensi EQ ialah pemahaman diri (self-understanding), dan keinginan untuk pertumbuhan diri sendiri (a desire for personal growth). Pada gilirannya, setelah langkah itu dilakukan kelak bisa diikuti tahap-tahap belajar selanjutnya. Dengan begitu, kelak nantinya akan terlahir para lulusan yang memiliki daya adaptasi tinggi.
Selanjutnya dari segi kurikulum, dinilai perlu mengalami pembenahan. Ini terlihat dari penyusunan kurikulum yang disesuaikan dengan situasi zaman dan potensi pemangku kepentingan pada satuan pendidikan. Itu sebabnya, kurikulum tidak sepantasnya seragam dan kaku. Jika saat ini guru mampu mengkreasikan kurikulum, kelak para siswanya terlatih menjadi orang yang kreatif. Untuk itulah, pemberian pengalaman kurikuler guru yang relevan dengan kehidupan riil siswa-siswanya, dipastikan dapat bermanfaat.
Strategi lainnya, yang juga memiliki kesamaan tujuan agar pengembangan sistem pembelajaran lebih baik. Yaitu, berupa penciptaan visionary instructional leadership. Dalam strategi ini pembelajaran di sekolah harus dilakukan guru yang memiliki kepemimpinan pembelajaran yang berdasar visi masa depan (visioner). Oleh karena itu, guru harus berlaku layaknya leader, dan bukan bertindak sebagai boss. Di simpul itu, guru menjadi faktor penentu bagi keberhasilan siswanya di kelas melalui penanaman nilai-nilai dan jiwa kreatif.
Kesimpulannya: pertama, perlunya re-orientasi proses belajar-mengajar di seluruh lembaga pendidikan. Awalnya orientasi itu menitikberatkan pada aspek kognitif diubah menjadi aspek kognitif-psikomotoris-afektif. Kedua, kini saatnya kita kembangkan EQ guna meraih keberhasilan dalam pendidikan. Konkretnya, kita gagas-kembali pendidikan yang berbasiskan emosi. Ketiga, proses belajar di mana pun dan kapan pun, tetap membutuhkan emosi sebagai pengayaan. Untuk itulah, sinergi EQ-IQ diperlukan guna memperkaya pendidikan. Semoga![]

artikelnya cukup bagus, pendidikn sekarang lebih mementingkan nilai konnitif saja sementara nilai emosional atau spritual sangat di kebelakangkan. sehingga kita banyak melihat guru maupun siswa lebih banyak memfokuskan pada persiapan menghadapi uan yang menjadi tolak ukur kelulusan di indonesia, tanpa melihat keterampilan dan lain-lain. janganlah heran nilai yang muncul adalah nilai kamuplase atau “kebohongan” baik yang dilakukan oleh siswa maupun oleh guru itu sendiri
an excellent writing
thanks
Saya salut dengan tulisan anda tentang pendidikan. Sekedar sharing terkait dengan proses belajar mengajar di Indonesia.
1. Kondisi Indonesia yang sangat plural masyarakatnya, budaya yang multikultural, tentunya tidak mudah untuk memastikan apakah kurikulum nasional (sentralisasi pendidikan) dapat teraplikasi dengan baik dan seragam.
2. Hal itulah yang membuat sulit bagi kita menerapkan PBM secara konsisten, pasti semua sangat tergantung dari banyak hal, letak geografis misalnya. Guru2 SD di kota (seperti pengalaman ibu saya), sudah mendapatkan kesejahteraan yang memadai disertai dengan infrastruktur pendidikan yang juga memadai. Tapi, tante saya yang kebetulan jadi kep.sek di kota kecil di aceh, mengalami hidup yang sulit sebagai seorang guru. Siapa yang mau disalahkan? sementara akselerasi pembangunan sulit diselaraskan, pasti ada saja yang terbelakang.
3. Kita cuma butuh sebuah pendekatan yang sesuai dengan kondisi bangsa kita, tidak dulu bicara pendekatan yang ideal untuk proses belajar tersebut. BIarpun tidak ideal, tapi asal sesuai kayaknya semua akan berjalan on the track.
4. Sinergi EQ dan IQ saya setuju, tapi saya lebih setuju lagi jika pendidikan kita diarahkan pada pendekatan eklektik, dimana tidak hanya EQ atau IQ terkuantifikasi, namun juga potensi diri lain, karakter atau belief seseorang (dan pastinya banyak lagi). Karena pasti seluruh faktor internal dan eksternal dari individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Assalamualaikum
EQ dan IQ memang sementara merupakan titik ukur kasat mata dalam keberhasilan otak mengelola materi yang masuk. Saya kurang senang mengkotak-kotakkan antara IQ dan EQ. Setiap anak yang lahir di dunia ini mempunyai kemampuan yang sama dengan potensi yang berbeda. Pendidikan memang bukan jaminan tapi merupakan tempat anak manusia belajar bersosialisasi dan membentuk kedewasaan. Potensi setiap anak bervariasi dari mulai science, exacta, atletik, language, dan art. terkadang potensi-potensi tersebut tersumbat karena kelelahan fisik dan kekurang cermatan dalam mengasah kemampuan. Potret pendidikan kita memang mematok keseimbangan antara EQ dan IQ namun bagaimana realitanya?. Masa keemasan pendidikan Indonesia pada era ‘Fuad Hasan’ (menteri pendidikan tahun 75). Pada masa itu terlihat berlajar merupakan sebuah kesadaran tanpa beban. Klimaks kemerosotan pendidikan kita jatuh pada era 90an (Kurikulum 1994 – Cara Belajar Siswa Aktive). Siswa hanya dijejali teori dan waktu belajar yang padat serta melelahkan. Sebenarnya, kesalahan bukan pada sistemnya melainkan pada misscomunication orang dilapangan (guru) dan penggarap konsep. Kemudian kita baru menyadari ketiksiapan kita dan menjejali konsep -konsep baru. KBK dan KTSP. Bagaimana penerapan keseimbangan IQ, EQ, dan SQ bisa kita aplikasikan bukan hannya sebagai sebuah wacana.
Mahasiswa calon pendidik, guru-guru muda, dan gur-guru senior seharusnya mulai melek matanya. Kita sebagai praktisi pendidikan sebaiknya membuka wacana dan mengaplikasikannya sembari mendiskusikannya dengan teman sejawat.
Salam kenal buat pak sudariyanto.
semoga wacana yang anda buka bisa anda aplikasikan dengan baik.
Moga-moga cepet jadi dosen ya!
Salam dari mbak Ida kimia 2000 UNY
Wassalam
Assalamu’alaikum,
mas, artikelnya boleh kuforward ke temen2 ya? tentu tidak lupa menuliskan nama mas dar sebgai penulis.
jazakallahu khoiro….
(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)
Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
Oleh: Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).
APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.
Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.
Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).
JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).
Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?
Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.
Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?
KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).
Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.
Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.
TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).
TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.
Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.
KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).
Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.
Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.
Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.
LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)